Lebaran adalah moment mudik bagi para perantau. Mudik sudah jadi tradisi dan entah sejak kapan tradisi mudik ini ada. Tetapi yang jelas setiap tahun ratusan ribu warga Solo pada mudik dari berbagai kota 1 lebaran 01besar di Tanah Air. Saat mudik pasti banyak kenangan yang ingin diingat kembali, banyak masakan yang ingin kembali dinikmati di kota asalnya yaitu SOLO atau SURAKARTA. Tetapi sayang saat ini makin sedikit rumah makan yang representative yang menyediakan ke-khas-an masakan Jawa. Sudah sulit untuk di dapatkan nikmatnya ayam klamut yang direbus dengan air kelapa muda yang dipadu dengan berbagai rempah. Tengkleng kambing, sebagai masakan khas Solo juga semakin jarang dijual orang apalagi yang memasaknya tidak sekedar “balungan” saja tapi daging kambing yang masih utuh melekat ditulangnya. Asem-asem iga pasti selalu dirindu oleh para perantau karena ke-khas-an rasanya yang segar dan sedikit pedas tetapi sensasi gurihnya membekas dilidah. Juga asem-asem kikil yang semakin langka pula. Belum lagi masakan seperti sayur Lombok dheso, jangan tholo, garang asem ayam, oseng-osen13265855_252237461799186_3701032371709285368_ng pare dan tempe. Sulit ditemukan kembali di kota Bengawan yang semakin menjadi metropolitan Rumah Makan DAPUR SOLO Hj. Indrat yang merupakan pengembangan dari BAKSO KADIPOLO yang sudah terkenal sejak tahun 1967 sampai sekarang tetap melestarikan Keagungan Citarasa Tradisi Masakan Jawa. Tiap hari menyajikan puluhan menu masakan jawa yang dihidangkan ala prasmanan. Kalau ada yang lebih baik mengapa harus memilih yang lain AYO KE DAPUR SOLO Hj. Indrat Simpan Simpan

Pesan Sekarang