“Anda belum ke Solo jika belum singgah di Dapur Solo” Itulah sepotong kalimat dalam sebuah majalah traveling di Jakarta. Dapur Solo, rumah makan yang terletak di jalan Slamet Ryadi bersebelahan dengan stasiun Purwosari itu, begitu melekat dan sudah menjadi salah satu ikon kota Solo. Menyajikan makanan khas kota Solo dengan resep warisan masa lalu yang dijaga secara turun temurun sejak jaman Kraton Mataram di Kartasura masih berdiri. Sayangnya kemegahan Kraton Mataram di Kartasura itu kini sudah tidak bisa dinikmati lagi sejak terbakar tahun 1742 karena pemberontakan warga Tionghoa yang dikenal dengan Geger Pecinan. Namun demikian kelezatan masakan khasnya masih bisa dinikmati dengan cita rasa yang asli di rumah makan “Dapur Solo”. Siapa sosok yang telah berjasa menjaga warisan itu? Dialah H. Suripto, pemilik rumah makan yang terkenal dengan kelezatannya itu. “Resepnya yang punya mbah saya,” kata Suripto tentang rahasia masakannya itu. Komitmennya untuk melestarikan warisan itu tak terlepas dari idealism laki-laki berkacamata ini. “Ini bagian dari pembelaan hidup saya untuk menjaga apa-apa yang telah diwariskan leluhur kita,” jelasnya. Suripto menegaskan tidak mau menjadi generasi kualat karena tidak bisa menjaga warisan para leluhur. Apa yang dimiliki Indonesia menurutnya , mulai dari seni, kuliner, tata nilai, cara hidup, dan lain-lain jauh lebih kaya dan lebih dari baik apa yang ditawarkan oleh bangsa lain yang mereka jejali ke bangsa kita melalui globalisasi dan isu-isu imperialism lainnya. Totalitas Suripto menjaga warisan itu diekspresikan dengan ikut dalam berbagai organisasi kemasyarakatan di Solo. “Ada satu warisan besar yang hari ini nyaris direbut orang lain karena kita tidak menjaganya. Warisan itu adalah Indonesia,” kata Suripto suatu ketika. Perjalanannya sebagai seorang aktifis yang juga seorang pebisnis mempertemukannya dengan Pemimpin Gerakan Beli Indonesia, Heppy Trenggono. “Ketika itu Pak Heppy menjadi pembicara dalam sebuah kelas pengusaha di Semarang tahun 2009,” katanya mengenang. Dan sejak pertemuan itu Suripto menjadi peserta tetap dalam kelas bisnis yang menghadirkan Heppy Trenggono sebagai pembicara. Klimaknya, ketika Kongres Kebangkitan Ekonomi Indonesia (KKEI) di Solo pada bulan Juni 2011 lalu. Kongres yang menggerakkan puluhan ribu massa yang membanjiri kota Solo ketika itu. Sejak perhelatan itu sampai saat ini, tidak ada hari yang terlewati oleh suami Hj. Alim Indratni ini tanpa melepaskan dari perjuangannya mengajak orang untuk menjaga warisan terbesar itu. Di hari minggu, memanfaatkan momen Car Free Day kota Solo, Suripto bersama kolega pengusahanya mengkampanyekan Beli Indonesia di jalan Slamet Ryadi. Di sela-sela mengurus bisnisnya, Suripto berbagi dengan para pengusaha berbagai level yang terlilit masalah. Tidak terbatas para pengusaha, kampus-kampus yang ada di Solo dan sekitarnya kerap mengundang ayah empat putra ini untuk berbicara tentang wirausaha. Lantai 2 restoran “Bakso Kadipolo” miliknya di jalan Ronggowarsito dijadikan sebagai pusat aktifitas para pengusaha untuk mengembangkan diri, berbagi dengan sesama dan perjuangan Beli Indonesia. “Jangan sampai kita menjadi generasi tidak berguna dan tidak memberi manfaat kepada generasi setelah kita,” ucap Suripto. Apalagi, sambungnya, jika kita sampai menghancurkan warisan dan meninggalkan bencana buat anak cucu kita. Pemahaman ini yang membuat Suripto tidak pernah lelah dan dengan gigih mengajak orang banyak untuk menjaga Indonesia. Menjaga Indonesia itu, menurutnya seperti yang dilakukan pendahulu kita yang telah mengorbankan harta dan jiwanya untuk menghalau bangsa asing yang ingin menguasai Indonesia. Karena nafsu bangsa asing untuk menguasai Indonesia tidak akan pernah padam sampai hari ini. Hanya modus dan caranya saja yang berbeda. “Menjaga Indonesia itu tidak harus dengan mengangkat senjata tetapi cukup dengan membela produk yang dibuat oleh anak-anak kita,” tegas Suripto. Membela produk anak-anak kita artinya sama dengan memberi mereka penghidupan. Memberi anak-anak bangsa kita penghidupan sama dengan memperkokoh kehidupan bangsa dan negara kita. Hanya dengan kehidupan bangsa yang kokoh kita bisa menjaga keutuhan dan merawat warisan bernama Indonesia itu. Karena tidak ada gunanya kita mencanangkan hidup bersama jika kita hidup sia-sia sebagai bangsa yang terjajah.

Pesan Sekarang