Dalam menjalani bisnis itu jangan emosional, tetapi harus mengedepankan intelektual. Agar tumbuh dan berkembang dengan kuat. dip-EKBIS-Profil Suripto-3 Suripto SOLO- Itulah sepenggal kalimat yang dilontarkan Suripto, saat ditemui Joglosemar pada Jumat (25/4). Sederetan kata-kata penuh makna tersebut, lantas yang ia jadikan sebagai acuannya untuk terus mengembangkan bisnisnya. Sebelum membawahi puluhan bisnis yang ia jalani, Suripto pun ternyata pernah menjalani hari-harinya sebagai seorang pegawai negeri sipil (PNS). Meskipun berprofesi selama 19 tahun di Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Kabupaten Wonogiri, tak membuat Suripto bermimpi menghabiskan masa hidupnya sebagai seorang pegawai. “Saya memutuskan keluar dari PNS dan beralih menjadi wirausaha, karena saya ingin lebih bermanfaat bagi orang banyak. Berbeda, jika hanya jadi pegawai yang terkesan monoton, dan hidup hanya untuk diri sendiri,” terangnya. Sebelum sukses sebagai seorang pengusaha, Suripto pun pernah merasakan gagal berkali-kali. Mulai dari usaha di bidang multi level marketing, hingga membuka toko oli dan suku cadang semuanya belum berhasil ia kembangkan. Hingga di suatu waktu pada Bulan November 1996, Suripto pun memutuskan untuk terjun di dunia kuliner. Dengan tempat kuliner yang ia buka pertama kalinya adalah Bakso, disusul Bakso Keraton, dan Dapur Solo. “Akhirnya saya memilih dunia kuliner, karena passion dan hobi saya pada dunia kuliner,”ujar pria asli Wonogiri ini. Dengan keuletannya, Suripto kini mampu mempertahankan kesemua bisnis kulinernya, bahkan tetap eksis di tengah terpaan resto-resto asing dan industri kuliner pendatang baru. Setidaknya saat ini ia telah memiliki puluhan cabang Bakso Kadipolo yang tersebar di wilayah Jawa. Bakso Keraton yang hadir di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek). Serta Dapur Solo yang saat ini baru memiliki dua cabang dan dalam waktu dekat akan meluas ke Kediri, Cikarang, dan Jakarta. Bahkan, diungkapkan Suripto, saat ini tak kurang terdapat sekitar 20 orang yang mengantre untuk dapat diberi kesempatan untuk franchise dari bisnis miliknya, mulai dari Riau, Samarinda, dan wilayah lainnya. “Banyak sekali teman atau kenalan yang meminta saya untuk mem-franchise-kan bisnis kuliner saya. Tetapi hingga saat ini, saya belum terpikir untuk ke arah sana, karena saya masih ingin memperkuat management bisnis saya di Pulau Jawa,” ucapnya. Alasan lainnya yang dikemukakan pria 48 tahun silam ini yakni, karena ia tidak mau terjebak lagi dengan sisi emosionalnya yang menginginkan ekspansi bisnis besar-besaran. Pasalnya, dari sisi emosional ini yang pernah membuatnya melakukan kesalahan dalam bisnisnya. “Ya dulu Bakso Kadipolo pernah memiliki 21 cabang, karena saat itu saya ingin bisnis cepat berkembang. Namun, karena hanya mengandalkan emosi sesaat, dan tidak diimbangi oleh semakin kuatnya di sisi manajemen maupun sumber daya manusia, membuat saya pada akhirnya harus menutup beberapa cabang. Dari sana saya belajar, bahwa bisnis berkembang bukan karena emosional, tetapi karena intelektual,” jelas pria yang lahir 24 Februari 1966. Suripto menilai, banyak hadirnya kompetitor justru ia jadikan sebagai penyemangat dalam mengasah kreativitasnya sebagai seorang pengusaha, “Saya pun tak lelah untuk terus berpikir kreatif dan berinovasi, agar produk saya tetap eksis dan memiliki nilai sendiri di antara produk yang telah ada,” jelas ayah dari keempat putra ini. Paramita Sari Indah

Pesan Sekarang